Senin, 19 Oktober 2009

ODALAN PRABU AIRLANGGA DI PURA GWK BALI 2 November 2009


SEJARAH : Kalau Pelinggih Prabu Airlangga di GWK hanya seharga Rp. 200.000,- maka Pelinggih Beliau di Pura / Puro / Keraton  Majapahit Trowulan Berupa Pelinggih Batu bata di atas Kura Kura / Dawang Besar dililit Naga mirif Candi Ampel Gading di Musium Trowulan, dibalik Pelinggih ada Patung Prabu Airlangga Naik Garuda nya, yang sempat di tinjau DEPAG dan dinyatakan "Bukan Tempat Ibadah Hindu" tapi Kuburan Prabu Airlangga, hanya sayang nya banyak Mangku-Mangku Tokoh Hindu Bali meng Klaim Tempat Ibadah Hindu, ini sesuai Rapat Desa Trowulan ketika membahas Pura Hyang Suryo, Dimana Tokoh Hindu Jawa tidak mengakui Pura Hyang Suryo Tempat Ibadah Hindu, dikatakan Tokoh tersebut Bahwa Tempat Ibadah Hindu adalah Padma satu untuk Hyang Widi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa,- inilah yang membuat Lurah, Camat dan Tokoh Agama Islam Trowulan termenung keheranan karena Hyang Suryo di Tuduh "Menyebarkan Agama Hindu" [agar bisa di hancurkan seperti Kolonel Agung, sebab Hindu harus ijin dan lisesnsi PHDI], dan beberapa Kiyai Yang ikut tanda tangan Tidak Setuju Pura Hindu Hyang Suryo mencabut Tanda Tangan tidak Setuju secara tertulis karena Tanda Tangan terlanjur beredar. Dikatakan lebih jauh, Tempat Ibadah Hyang Suryo kok Banyak Candinya ? ini jelas menyimpang dari Pura Hindu yang ada di Jawa, yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa / Hyang Widi sama dengan Islam Menyembah satu Allah, Hingga Team DEPAG datang melihat sendiri Pura Hindu yang dituduhkan, Didalam Pura / Puri Hyang Suryo menjelaskan Panjang lebar tentang Leluhur yang di Aben, dan Hyang Suryo tidak pernah minta Makam kepada Pemerintah, juga di Cek didepan Candi Kawitan tertulis yang melinggih " Sri Kerta Rajasa Jaya Wisnu Wardhana" juga tertulis di Candi Ibu "Singalaya Pura Tempat Leluhur Putri Majapahit" Ketika team DEPAG melihat Pelinggih Prabu Airlangga Naik Garuda sempat bicara " Lho ini salah Informasi, itu Camat nya kan lulusan Universitas Airlangga? mungkin belum melihat ini" sambil menunjuk Wisnu Naik Garuda di belakang Pelinggih yang bertengger di Atas Penyu Besar [istilah islam Penyu untuk Dawang] dan dililit 2 Naga bermahkota yang ada di Musium terbuat dari Batu Putih Kecil tinggi 1 meter dan ditemukan di Ampel Gading kaki Gunung Semeru. Juga Tokoh Agama Budha yang pura pura nge cek ke Puro Hyang Suryo pun tidak mengakui Budha [Agama Budha harus Ijin lesensi DEPAG Dirjen Budha], sebab banyak Candi bermotif Hindu dirumah Hyang Suryo.

Akhirnya benar Hyang Suryo bukan Agama tapi sebuah "Kepercayaan Siwa-Buda" penganut Pemujaan Leluhur atau Muja Pik Kong atau bahasa gampang nya Pemuja Kuburan Leluhur [Padahal Leluhur Agama islam para Wali yang ada Kuburannya, Orang Majapahit di Candi kan Ijin mestinya Dinas Pemakaman, didesa Tidak ada Orang bebas Ngubur Mayat], Kemudian Team Investgasi di pimpin GRP Nokoprawiro, Komang Edi Biokong, Jero Gede Susila dll ke Trowulan, dengan didampingi Djoko Umbaran Pensiunan Purbakala yang mengantarkan Team Investigasi ke Candi Jolotundo, Ngerimbi, Bangkal dll, Dijelaskan Djoko Umbaran bahwa 1965 "Bapak saya Target di Bunuh,rumah saya diberi tanda X cat merah" memang Bapak nya Djoko Umbaran terkenal Orang Kebatinan selalu pakai Baju Hitam, Celana hitam dan Udeng hitam dan baru meninggal beberapa tahun silam, djoko Umbaran adalah Juru Kunci Punden "Tunggul Manik" yang dihancurkan Purbakala sendiri 9-9-1999 jam 9 pagi hingga rata tanah, dan oleh Hyang Suryo dibikinkan Pelinggih di dalam Pura karena kasihan Embah Tunggul Manik tidak punya rumah, untuk Ngenteg Linggih Odalan dan Caru ini diatur Ida Pedanda made Gunung Beliau yang Muput Ngalinggihan Embah Tunggul Manik [Foto Banten Caru Muput lengkap] sempat ada Kerauhan Tunggul Manik hadir dan bertanya "Omah ku nyapo di Jur ?" dijawab Hyang Suryo "Mbah Omah sampeyan nyaopo di bangun nek Tanah he Perbakala?" Embah menjawab " Lho iku biyen tanah Mojopahit" Hyang Suryo menghibur " Wis Mbah, sak iki dek kene Wae, aman iki Tanahku Mbah" si Mbah menjawab" Iyo..yo..yo" Yang kerauhan Mangku Bima orang Bali yang dalam Kerauhan sangat pandai Bahasa Jawa, Mangku Bima Mananda baru saja Di Ruwat Mangku GRP Nokoprawiro di Pura Ibu Majapahit bersama Gusti Subawa dan Kluarga, Juga AA Ngurah Dharmaputra SH bersama Ida Pedanda Telabah dan Tokoh tokoh Bali lainnya depan Pratima Ganesa Dwi Muka yang habis Meruwat Dunia / "Caru Resi Gana Jagat Raya" yang di prakarsai Dunia Hindu sekaligus Acara "Ganesa Caturty 2008" yang dihadiri India, Belanda, Thailand, Jepang, Singapura dll dan mereka percaya Percikan Tirta Ganesa dan jongkok diperciki Tirta oleh Sri Wilatikta Brahmaraja XI agar terbebas dari Mara Bahaya, suatu kepercayaan Dunia yang membanggakan yang percaya juga biarpun dikritik bangsa sendiri termasuk Alvatarz [mengenai Kiamat kapan? orang sekarang sedang hidup dan usaha sesuai kepercayaan masing masing ya Memang Hindu Buda sudah hancur di timur tengah disini belum lha kalau semua nganggur nunggu kiamat makan apa?] dan Jawa berjiwa Arab 500 tahun yang lalu yang anti adat Majapahit,- Demikianlah kembali ke Team Investigasi selanjutnya setelah Tunggul Manik di Hancurkan menyusul Rumah / Puri Kolonel Agung Orang Bali awal 2000, Candi / Padma Kolonel Agung di Hancurkan dan di Bakar hingga rata tanah dan Beliau Tewas dimakamkan di Bong Cino [makam Cina] hingga kini Layonnya belum diambil Keluarganya yang suka Tangkil di Pura GWK, Menyusul Pemboman Gereja-Gereja Malam Natal 2000 di Mojokerto, 2001 [Alvatarz boleh tertawa] giliran Pura Hyang Suryo mau di Hancurkan, sampai di sini Imam Karyono, Khoirul Huda Guru SMP Islam Trowulan juga Ketua Pemuda Ansor, Ketua Fraksi PKB anggota DPRD Mojokerto Bpk. Nurhadi dll  di bulan Oktober 2001 melakukan aksinya.

Orang Orang ini bagai menghantam Tembok Besi, Mereka gagal bahkan Camat terpaksa tewas setelah 3 tahun Struk di RS, Khoirul Huda Sakit hingga Ginjal nya di Oprasi ini keterangan Ibu RT Sumono yang di pecat Imam Karyono dan di suru Ngungsi Karena Pura Hyang Suryo mau di BOM, Menurut Bpk. Djoko BUDPAR Mojokerto teman Sekolah Camat Trowulan di Airlangga, waktu berkunjung ke Pura Majapahit Beliau berkata  "Yang Ngebom di sambar Petir dan Tewas" menurut Umbaran Purbakala " Bom nya diledakkan di sawah, yang buat keponakan saya" apakah Keponakannya yang disambar Petir tidak dijelaskan, dan itu semua atas Hasutan Imam / Takmir Karyono,- Team juga bertemu Mbah Pulang yang menjelaskan " Kalau menhancurkan Orang Bali, saya pertaruhkan Bayi anak saya dalam Kandungan, saya tidak takut Kuwalat [Bali Tulah], tapi Kalau Eyang Suryo, saya takut, itu Camat saja mati, lainnya tidak karuan nasibnya, saya Takut Eyang Suryo itu Temenan Ngelakoni, tidak pernah jual Pusaka, malah Nguri Nguri Leluhur, yang saya hormati, dan takuti hanya Eyang Suryo" demikian Mbah ini berkata pada GRP Noko dan Biokong Edi di Candi Tikus sambil nge cek Hancurnya Padma orang Bali didekat Candi ,ketika pisah GRP Noko menyalami sambil berkata "Kulo Bade Rawuh Mbah?", Kini Rumah / Puri Kolonel Agung yang kena ZONE Purbakala justru di Bangun Masjit, "Lho kok boleh Masjit di bangun di Zone Purbakala?" tanya Noko yang dijawab Djoko Umbaran " lha kono kan sing duwe Negoro" {Maksudnya Islam yang punya Negara} Memang menurut Umbaran yang sering terbatuk batuk akibat Rokok Kretek nya nyambung terus ini Rekannya Perbakala pernah mengukur Rumah Hyang Suryo untuk di kenakan Zone Purbakala agar ada hukumnya untuk dihancurkan, dan habis Ngukur Orangnya oleh keluarganya diukurkan tanah di kuburan dan Sang pengukur dikuburkan karena Tewas "Namanya Hartawan yang ngukur ngukur Rumah Eyang Suryo saya melihat sendiri karena rekan se Kantor" jelas Pensiunan Purbakala dan Tokoh Kebatinan ABOGE yang Bapaknya Target Pembunuhan 1965 ini,- Djoko Umbaran banyak membantu Hyang Suryo termasuk mendampingi Team Pengacara Hyang Suryo yang diketuai DR. Made Warka dari UNTAG menemui Yono pegawai Kecamatan bagian Sertfikat Tanah, dimana 1967 ada Prona Sertifikat Masal dimana Pura Hyang Suryo ikut di daftar oleh Polo dusun [sekarang masih ada] bahkan Jual Beli Kecamatan ada di tangan Yono ini [Hyang Suryo malah tidak megang surat], Yono mengakui kalau Hyang Suryo memang terdaftar ikut Pensertifikatan itu dan arsip jual beli ada ditangannya, tapi hingga kini 2009 belum selesai 1997 membayar 180.000 karena ada Akta jual belinya kalau tidak ada 200.000,- demikianlah penjelasan Tentang Prabu Airlangga yang di Trowulan Odalannya Purnama ketiga, di GWK Odalannya Purnama ke Lima jatuh 2-11-2009 nanti, ditambahkan Jero Gede Susila bahkan diajak ke Warung oleh Hyang Suryo,  di warung Hyang Suryo dipijit dan [ Bali Masas ] sangat di hormati, dan Warung tidak mau dibayar, bahkan bersyukur Hyang Suryo mau mampir dan minum Jahe maupun jajan saya melihat dengan mata kepala sendiri dan goncengan naik motor sama Hyang Suryo, biarpun lama tidak bertemu karena Hyang di Bali, mereka menganggap baru kemarin bertemu Hyang "Trimonen iki duwik e Wong Bali dudu duwek ku" [terimalah ini uangnya orang Bali bukan uang saya] kata Hyang Suryo dan uang saya diterima, malah dibawai jajan suru bawa pulang, saya Gede Susila menyaksikan bahwa Hyang Suryo dihormati bahkan Bila Tumpengan di Pendopo Troloyo itu Modin / Tokoh Agama Bapaknya Lurah Sulkan Lurah Sentonorejo, Pucuk Tumpeng dan Ayam dadanya dikasikan Hyang Suryo, Hyang Suryo hampir 9 tahun tidak menemui mereka tapi mereka merasa katanya Hyang bulan lau masih minum di warungnya, bahkan tetap menjadi idiola mereka karena dekat nya Jiwa orang itu tidak bertemu lama, tetap merasa baru kemarin bertemu Hyang, jadi cerita penduduk sangat baik dan sulit melupakan Hyang Suryo dari Ingatannya, bahkan Modin berkata "Tak pek mantu gak gelem, sak iki wis kawin putuku" [Saya ambil menatu tidak mau, sekarang sudah kawin cucu saya] kata sang Modin sambil menghisap Kreteg GG yang didesa bisa Mengawinkan orang "Kawin Modin" didesa Kawin dihadapan Modin sah adanya  jadi langsung bisa serumah, dan Laki Laki harus ikut di Rumah sang Perempuan ini adat Trowulan, Itu Imam / Takmir Karyono juga Menantu, Khoirul Huda menantu di Trowulan asal Pakem, "Orang Asli Trowulan tidak anti Hyang suryo, itu yang anti Orang Luar, paling disini Menantu" kata pemilik Warung yang  perempuan Trowulan asli, Jadi Perempuan Trowulan jarang keluar desa turun temurun nanti anak perempuan dapat warisan dan tetap di Trowulan, Lelaki Trowulan Kawin ikut istrinya entah kemana,- Jadi nama Hyang Suryo bersih di Trowulan yang Panitia Perayaan Suran sejak 1980 an, dan cukup dikenal di Trowulan 1960 an dimana Mbah Mariam di Putri Cempa ngaku Kenal Hyang Suryo masih Gadis kini sudah punya cucu aneh tapi nyata jadi Banyak yang sudah Meninggal teman teman Hyang Suryo, tapi anak cucunya malah meneruskan jadi teman, bahkan yang dulu teman seperti Mbah Mariam memberi Roti Bakery dalam Kotak untuk Hyang dan di makan bersama seolah Orang Tua Hyang Suryo sendiri  taman cucu nya,- demikianlah Sejarah Prabu Airlangga yang dari Trowulan karena ditutup pindah Odalan ke Pura GWK nanti 2 November 2009,-{Team Investgasi GRP Noko cs}20-10-2009,-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar